Muktamar NU ke-35: 2.090 Peserta Terdaftar, Ansor Makassar Titip Harapan untuk PBNU
- account_circle Haris Efendi
- calendar_month 57 menit yang lalu
- print Cetak

Muktamar NU ke-35 Jadi Panggung Konsolidasi dan Penentuan Arah Organisasi
JOMBANG, INC MEDIA — Muktamar NU ke-35 memasuki fase penting di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Hingga Kamis, 27 Agustus 2026 pukul 10.25 WIB, sebanyak 2.090 peserta tercatat telah mengambil registrasi dari total 2.943 peserta. Sebanyak 853 peserta lainnya masih belum mengambil registrasi.
Angka tersebut menunjukkan proses registrasi terus bergerak seiring kedatangan peserta dari berbagai daerah. Di tengah padatnya persiapan Muktamar, rombongan Gerakan Pemuda Ansor Makassar juga tiba secara bertahap di Jombang dengan membawa pesan penting tentang masa depan Nahdlatul Ulama (NU), khususnya kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Kehadiran peserta dari berbagai wilayah memperlihatkan bahwa Muktamar bukan sekadar agenda administratif organisasi. Forum ini menjadi ruang konsolidasi untuk menentukan arah NU memasuki abad kedua.
Muktamar NU ke-35: Registrasi Peserta Terus Bergerak
Panitia lokal Muktamar NU ke-35 menerapkan proses verifikasi dan registrasi secara bertahap. Ketua Bidang Sekretariat Panitia Lokal Muktamar NU ke-35, Ali Mahmud, menjelaskan bahwa peserta terlebih dahulu menjalani proses verifikasi sebelum masuk ke ruang registrasi.
“Hari… per jam ini sudah 1.900 peserta yang sudah terverifikasi dan terregistrasi secara baik di dua tempat. Ini adalah tempat verifikasi, kemudian nanti dilanjutkan ke ruang registrasi.”
Setelah wawancara tersebut, data pada sistem menunjukkan jumlah peserta yang sudah mengambil registrasi meningkat menjadi 2.090 orang. Dengan total 2.943 peserta, masih terdapat 853 peserta yang belum mengambil registrasi.
Proses verifikasi juga menggunakan teknologi QR code. Peserta kemudian diarahkan ke ruang registrasi dengan membawa KTP asli dan identitas nomor antrean.
“Untuk detailnya bisa ada di Command Center, tetapi kami yang ada di sini hanya mengidentifikasi sesuai dengan SOP. Adanya QR code menjadi fase pertama, kemudian berikutnya menuju ke ruang registrasi dengan berbekal KTP asli dan juga identitas nomor antrean.”
Panitia menyiapkan sekitar 30 personel di ruang registrasi. Mereka mendapat dukungan sekitar 250 tenaga keamanan lokal, unsur Polres, serta pasukan inti Pagar Nusa.
“Di ruang registrasi ini ada sekitar 30 personel, didukung dengan 250 tenaga keamanan lokal dan juga dari unsur Polres dan juga dari pasukan inti Pagar Nusa.”
Ansor Makassar Hadir, Bawa Aspirasi Kader Daerah
Di tengah dinamika Muktamar NU ke-35, rombongan GP Ansor Makassar datang ke Jombang secara bertahap. Sebagian kader telah tiba pada Rabu, 26 Agustus 2026, sementara rombongan lainnya masih dalam perjalanan menggunakan dua bus.

Sejumlah kader Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Makassar berfoto bersama di sela rangkaian kegiatan Muktamar NU ke-35 di Jombang, Jawa Timur. Kehadiran Ansor Makassar menjadi bagian dari konsolidasi kader sekaligus menyampaikan harapan terhadap arah kepemimpinan PBNU memasuki abad kedua. (Dok.foto-NU Media Jati Agung).
Salah satu peserta, Aspar Ramli, menjelaskan pola keberangkatan rombongan tersebut.
“Kami dari teman-teman Ansor itu rombongan pertama, kemudian rombongan kedua kemungkinan dua bus dalam perjalanan,” ujar Aspar Ramli kepada wartawan NU Media Jati Agung, Rabu, 26 Agustus 2026.
Kehadiran Ansor Makassar tidak hanya menjadi bagian dari mobilisasi kader. Rombongan tersebut juga melakukan ziarah ke sejumlah makam ulama di sepanjang perjalanan menuju Jombang.
Tradisi itu menjadi bagian dari penghormatan terhadap perjuangan ulama sekaligus cara kader menjaga hubungan dengan sejarah dan akar perjuangan Nahdlatul Ulama.
Muktamar NU ke-35 dan Harapan terhadap Pemimpin PBNU
Agenda paling strategis dalam Muktamar tentu berkaitan dengan kepemimpinan PBNU. Bagi kader daerah, pergantian atau penetapan kepemimpinan bukan sekadar persoalan siapa yang menduduki posisi tertinggi dalam struktur organisasi.
Lebih jauh, kepemimpinan PBNU akan menentukan bagaimana NU merespons tantangan sosial, perubahan zaman, serta kebutuhan warga pada masa mendatang.
Aspar menilai seluruh kandidat memiliki kapasitas untuk memimpin PBNU. Ia tidak mempersempit dukungan kepada satu nama tertentu.
“Saya kira semua punya kapabilitas yang mumpuni untuk memimpin PBNU,” kata Aspar.
Namun, di balik sikap terbuka terhadap para kandidat, terdapat harapan kuat agar siapa pun yang mendapat mandat mampu membawa organisasi berkembang lebih besar.
“Tapi siapa pun yang terpilih untuk menjadi nahkoda di PBNU, kita berharap PBNU ini bisa jauh lebih besar lagi di memasuki abad kedua ini,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan satu hal: tantangan kepemimpinan NU tidak berhenti pada proses pemilihan. Setelah Muktamar selesai, pemimpin terpilih akan menghadapi pekerjaan yang jauh lebih besar, yakni memastikan organisasi tetap solid sekaligus relevan menghadapi perubahan masyarakat.
Ansor dan Banser Perkuat Ketertiban Muktamar
Selain mengikuti agenda organisasi, kader Ansor dan Banser juga mengambil bagian dalam menjaga kelancaran Muktamar. Kesiapan Barisan Ansor Serbaguna menjadi salah satu unsur pendukung keamanan dan ketertiban selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Kehadiran Banser menunjukkan bahwa kader muda tidak hanya hadir sebagai peserta. Mereka juga menjalankan fungsi pengabdian organisasi sesuai kebutuhan di lapangan.
Di sisi lain, panitia lokal menyiapkan sistem keamanan yang melibatkan tenaga keamanan lokal, unsur Polres, serta pasukan inti Pagar Nusa. Dukungan tersebut berjalan bersamaan dengan mekanisme registrasi yang menggunakan sistem verifikasi berlapis.
Kombinasi antara sistem administrasi, teknologi, dan pengamanan menjadi bagian penting untuk mengelola ribuan peserta yang datang dari berbagai daerah.
Menatap Abad Kedua NU
Muktamar NU ke-35 memiliki arti strategis karena berlangsung ketika Nahdlatul Ulama memasuki fase perjalanan abad kedua. Karena itu, forum tersebut tidak cukup hanya menghasilkan keputusan administratif atau kepemimpinan baru.
NU membutuhkan konsolidasi yang mampu mempertemukan kepentingan pusat dan daerah. Kader dari berbagai wilayah membutuhkan ruang untuk menyampaikan aspirasi sekaligus menyatukan langkah.
Kehadiran Ansor Makassar menjadi salah satu gambaran bagaimana kader daerah memandang Muktamar sebagai momentum penting untuk memperkuat organisasi.
Harapan terhadap PBNU juga semakin jelas: pemimpin baru diharapkan mampu menjaga persatuan, memperkuat konsolidasi, meningkatkan kapasitas organisasi, serta memastikan NU tetap dekat dengan masyarakat.
Dengan 2.090 peserta yang telah mengambil registrasi dan 853 peserta yang masih menunggu proses pengambilan, dinamika Muktamar masih terus berlangsung.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Muktamar NU ke-35 bukan hanya terlihat dari kelancaran registrasi maupun tertibnya pelaksanaan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana keputusan Muktamar mampu menjawab kebutuhan organisasi dan masyarakat.
Sebab, setelah panggung Muktamar ditutup, tantangan sesungguhnya baru dimulai: membawa Nahdlatul Ulama semakin kuat, solid, dan relevan dalam memasuki abad keduanya.
Sumber: NU Media Jati Agung
- Penulis: Haris Efendi
- Editor: Rio Saputra
- Sumber: NU MEDIA JATI AGUNG







