Pelatihan Tenaga Kerja Cirebon Diburu Warga, 102 Pendaftar Siap Tingkatkan Kompetensi
- account_circle Wahidin
- calendar_month 50 menit yang lalu
- print Cetak

CIREBON, INC MEDIA — Pelatihan tenaga kerja Cirebon kembali menjadi perhatian setelah program pelatihan pengelasan di UPT Latihan Tenaga Kerja Kota Cirebon mencatat lebih dari 100 pendaftar. Tingginya minat tersebut menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap keterampilan praktis yang dapat membuka akses pekerjaan sekaligus mendorong lahirnya wirausaha baru.
Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, didampingi Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Iing Daiman, meninjau langsung kegiatan pelatihan di UPT Latihan Tenaga Kerja Kota Cirebon, Jumat (7/8/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan fasilitas dan proses pembelajaran berjalan optimal. Pemerintah Kota Cirebon juga ingin memastikan program pelatihan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi memiliki dampak nyata terhadap kesempatan kerja masyarakat.
Pelatihan Tenaga Kerja Cirebon Didukung Fasilitas Memadai
Dalam kunjungan itu, Effendi Edo meninjau fasilitas pelatihan pengelasan yang menjadi salah satu program baru tahun ini. Ia mengapresiasi kondisi peralatan yang dinilai lengkap dan layak digunakan.
“Setelah saya melihat langsung, fasilitas pelatihan pengelasan di sini sangat baik. Peralatannya masih lengkap, mulai dari mesin las, helm pelindung, jaket keselamatan hingga perlengkapan lainnya semuanya masih berfungsi dengan baik. Artinya, masyarakat yang mengikuti pelatihan bisa belajar dengan fasilitas yang memadai,” ujarnya.
Menurut Effendi, ketersediaan fasilitas menjadi bagian penting dalam membentuk tenaga kerja yang memiliki kemampuan sesuai kebutuhan dunia industri. Pelatihan yang didukung peralatan layak akan membuat peserta lebih siap menghadapi kondisi kerja sebenarnya.
102 Warga Daftar Pelatihan Pengelasan
Antusiasme masyarakat menjadi sinyal kuat bahwa kebutuhan terhadap pelatihan keterampilan masih tinggi. Meski baru dibuka pada bulan ini, pelatihan pengelasan telah menarik lebih dari 100 pendaftar.
“Antusiasme masyarakat luar biasa. Baru dibuka saja sudah ada 102 orang yang mendaftar. Ini menjadi motivasi bagi pemerintah untuk terus mengembangkan program pelatihan sesuai kebutuhan masyarakat maupun dunia kerja,” lanjutnya.
Effendi menilai pelatihan harus diarahkan pada dua jalur sekaligus. Peserta dapat menggunakan kompetensinya untuk mencari pekerjaan atau memanfaatkannya sebagai modal membangun usaha mandiri.
“Harapan kami, peserta yang mengikuti pelatihan ini nantinya memiliki kompetensi yang dibutuhkan perusahaan sehingga lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Di sisi lain, mereka juga bisa memilih untuk membuka usaha sendiri, misalnya bengkel las. Pemerintah tentu akan terus melihat kebutuhan ke depan, termasuk apabila diperlukan penambahan fasilitas pelatihan,” tambahnya.
Disnaker Siapkan Kelas Berikutnya
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Cirebon, Ma’ruf Nuryasa, menjelaskan bahwa pendaftaran pelatihan masih dibuka hingga 12 Agustus 2026. Untuk pelatihan pengelasan, kapasitas awal ditetapkan satu kelas dengan 16 peserta.
“Minat masyarakat sangat tinggi. Untuk pelatihan pengelasan saja jumlah pendaftar sudah melampaui 100 orang. Karena itu kami berencana membuka kelas-kelas berikutnya agar semakin banyak warga yang dapat mengikuti pelatihan,” ujarnya.
Selain pengelasan, Disnaker Kota Cirebon membuka sejumlah program lain, antara lain digital marketing, menjahit, barista, dan barbershop.
Program tersebut dirancang agar mengikuti perkembangan kebutuhan pasar kerja. Dengan demikian, peserta tidak hanya memperoleh sertifikat atau pengalaman pelatihan, tetapi juga memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan perusahaan maupun peluang usaha.
Pelatihan Tenaga Kerja Cirebon Didorong Terhubung dengan Industri
Ma’ruf mengatakan, pemerintah tidak ingin pelatihan berhenti ketika peserta menyelesaikan proses pembelajaran. Disnaker tengah memperkuat konsep link and match dengan dunia usaha dan dunia industri.
“Kami ingin hasil akhirnya jelas. Ada peserta yang memilih menjadi wirausaha, ada juga yang ingin bekerja di perusahaan. Karena itu kami sedang membangun kerja sama dengan berbagai pelaku usaha. Contohnya untuk pelatihan menjahit, kami akan menggandeng perusahaan sehingga peserta yang memenuhi kualifikasi dapat langsung disalurkan untuk bekerja,” jelasnya.
Langkah tersebut penting karena keberhasilan pelatihan seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang mengikuti program. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana keterampilan tersebut mampu meningkatkan peluang kerja dan menciptakan sumber pendapatan baru.
Tekan Pengangguran Terbuka
Program pelatihan juga menjadi salah satu strategi Pemerintah Kota Cirebon untuk menekan angka pengangguran terbuka. Saat ini angka tersebut berada di 6,4 persen, turun dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 6,6 persen.
“Salah satu tuntutan dunia kerja saat ini adalah kompetensi. Karena itu kami terus meningkatkan kemampuan para pencari kerja agar mampu bersaing dan beradaptasi dengan kebutuhan industri. Target kami, angka pengangguran terus menurun dari tahun ke tahun,” katanya.
Durasi pelatihan disesuaikan dengan bidang yang dipilih peserta. Pelatihan pengelasan berlangsung selama 26 hari. Sementara pelatihan barista berlangsung selama 18 hari. Program lainnya berlangsung antara 10 hingga 26 hari, dengan kegiatan belajar dari pagi hingga sore.
Peserta Mulai Menyiapkan Usaha Sendiri
Dampak program pelatihan juga dirasakan peserta. Ofa, salah seorang peserta pelatihan barista, mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru meski sebelumnya belum memiliki pengetahuan mengenai dunia kopi.
“Saya benar-benar mulai dari nol, tetapi selama pelatihan semuanya dijelaskan dengan sangat jelas sehingga mudah dipahami. Kami belajar mulai dari teknik seduh manual seperti V60, espresso, kopi susu hingga berbagai metode penyajian lainnya. Sekarang tinggal terus berlatih agar keterampilan semakin meningkat,” ungkapnya.
Bagi Ofa, pelatihan tersebut bukan sekadar kegiatan belajar. Ia ingin menjadikannya sebagai modal awal untuk mewujudkan cita-cita membuka kedai kopi sendiri.
“Saya berharap suatu saat bisa membuka coffee shop sendiri. Selama ini saya hanya menjadi penikmat kopi, sekarang ingin belajar menjadi pembuatnya. Mudah-mudahan ilmu yang didapat dari pelatihan ini bisa menjadi bekal untuk membangun usaha,” katanya.
Ia berharap program pelatihan terus berjalan dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Semoga pelatihan seperti ini terus ada dan bisa melahirkan generasi muda yang unggul, pengusaha-pengusaha sukses dari Kota Cirebon, maupun barista-barista yang andal,” pungkasnya.
Program UPT Latihan Tenaga Kerja Kota Cirebon memperlihatkan bahwa peningkatan kompetensi menjadi salah satu kunci menghadapi persaingan kerja. Tingginya jumlah pendaftar juga menjadi pesan bagi pemerintah bahwa masyarakat membutuhkan program yang konkret, terukur, dan memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan industri.
Jika pelatihan mampu diperluas, fasilitas ditingkatkan, dan hubungan dengan dunia usaha semakin kuat, program tersebut berpeluang menjadi salah satu instrumen penting untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus mendorong pertumbuhan wirausaha di Kota Cirebon.
- Penulis: Wahidin
- Sumber: Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan, Setda Kota Cirebon






