- account_circle arif
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Takhtiman Ponpes Yanbu’ul Ulum dan Pesan Abi Syukron untuk Santri
Lampung Selatan, incmedia.Site — Malam itu, suasana Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Diniyyah Putra-Putri Yanbu’ul Ulum terasa berbeda.
Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun pelan, memenuhi ruangan yang dipadati para wali santri, tokoh agama, dan tamu undangan.
Satu per satu santri duduk dengan wajah penuh haru. Ada rasa syukur, bangga, sekaligus kesadaran bahwa perjalanan mereka belum selesai.
Prosesi Takhtiman Al-Qur’an Juz Amma dan Khataman Kitab Alfiyyah Ibnu Malik yang digelar Sabtu malam Ahad (27/6/2026) di Jalan Raden Santri, Gang Pondok, Dusun 38, Desa Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan itu bukan sekadar seremoni.
Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum, malam tersebut menjadi penanda lahirnya semangat baru untuk terus menimba ilmu.
Sebanyak 20 santri berhasil menyelesaikan Takhtiman Juz Amma, sementara enam santri menuntaskan pembelajaran Kitab Alfiyyah Ibnu Malik.
Tepuk tangan para wali santri pecah ketika prosesi khataman usai dilaksanakan.

Foto Dok Ahmad Royani: Enam Santri Ponpes Yanbu’ul Ulum, khatam Alfiyyah Ibnu Malik.
Namun di balik kebahagiaan itu, tersimpan pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar ucapan selamat.
Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum, Abi A. Syukron Malik, S.H.I., Al-Hafidz, justru mengingatkan bahwa khatam bukanlah garis akhir.
“Anak-anak yang sudah menyelesaikan khataman Al-Qur’an maupun Juz Amma, tentu harapannya agar ilmu yang mereka peroleh dari takhtiman atau khataman Al-Qur’an ini menjadi ilmu yang bermanfaat dan penuh berkah,” ujarnya.
Bagi Abi Syukron, membaca dan menghafal Al-Qur’an adalah pintu masuk.
Setelah itu, santri dituntut memahami isi kandungan Al-Qur’an agar mampu mengamalkannya secara benar.
Karena itulah, di Yanbu’ul Ulum para santri tidak berhenti pada hafalan. Mereka juga mempelajari Kitab Alfiyyah Ibnu Malik sebagai ilmu alat untuk memahami bahasa Al-Qur’an.
“Karena Al-Qur’an itu berbahasa Arab dan dalam memahami Al-Qur’an, baik secara gramer maupun secara makna maupun secara tafsir, itu membutuhkan alatnya. Nah, alatnya itulah nahwunya,” jelasnya.
Perjalanan menguasai ilmu tersebut bukan perkara singkat. Menurut Abi Syukron, seorang santri memerlukan kesabaran bertahun-tahun untuk benar-benar menyelesaikan pembelajaran Alfiyyah.
“Kalau khusus di Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum tentunya untuk menyelesaikan Alfiyah Ibnu Malik itu membutuhkan waktu sekitar enam tahun atau bisa sampai tujuh tahun,” ungkapnya.
Sementara itu, proses menghafal Al-Qur’an juga berbeda pada setiap santri.
“Untuk Al-Qur’annya sendiri sebenarnya secara umum bisa dihafalkan selama tiga tahun bagi anak-anak santri yang betul-betul menghafal, tapi biasanya ada yang memang sampai lima atau enam tahun,” lanjutnya.
Di tengah derasnya perkembangan zaman, Abi Syukron memandang bahwa tantangan terbesar bukan hanya mencetak santri yang pandai membaca Al-Qur’an, melainkan melahirkan generasi yang memahami, mengamalkan, dan mampu menjawab persoalan kehidupan dengan bekal ilmu agama.
Karena itu, malam takhtiman bukanlah perayaan atas berakhirnya proses belajar. Justru, di situlah perjalanan baru dimulai.
“Tentunya pesan Abi adalah santri-santri yang sudah dikhatamkan, pertama tidak berhenti di sini. Artinya, karena ini baru khatam, jadi santri baru menghatamkan apa yang dipelajarinya,” pesannya.

Foto Dok Ahmad Royani: KH Dimyati Rifa’i saat menyampaikan Tausyiah.
Ia kembali menegaskan bahwa masih ada jenjang berikutnya yang harus ditempuh setiap santri.
“Masih ada jenjang berikutnya yaitu menghatamkan Al-Qur’an, masih ada jenjang berikutnya yaitu mendalami Al-Qur’an. Nah kemudian untuk Alfiyyah pun seperti itu. Ini baru khatam Alfiyyah, belum sepenuhnya memahami ilmu Alfiyyah,” ujarnya.
Pesan itu menjadi penutup yang mengendap di benak para santri dan wali santri yang hadir malam itu.
Bahwa sebuah khataman sejatinya bukanlah tanda selesai belajar, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Abi Syukron pun berharap seluruh santri terus menjaga semangat menuntut ilmu sepanjang hayat.
“Maka pesan Abi pada santri-santri yang menghatamkan tentunya tidak berhenti di sini, selalu belajar, belajar dan mengamalkan ilmu yang telah didapatkan,” tegasnya.
Harapan tersebut sejalan dengan visi Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum yang ingin melahirkan generasi berilmu, berakhlak, serta mampu menghadapi perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai agama.
“Tentunya visi daripada Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum atau umumnya pondok pesantren Nahdlatul Ulama, cita-citanya adalah mencetak generasi yang betul-betul mumpuni dalam bidang ilmu agama, baik Al-Qur’an maupun ilmu kitab, sehingga bisa menjawab tantangan zaman,” tuturnya.
Ia menutup wawancara dengan harapan agar para santri kelak menjadi bagian dari Generasi Emas Indonesia yang tetap berpegang teguh pada ajaran agama dan norma sosial.
“Walaupun zaman itu berkembang, tentunya santri-santri bisa menjawab tantangan tersebut sehingga tidak keluar dari koridor tatanan agama maupun norma sosial di Negara Indonesia untuk menyongsong Generasi Emas,” pungkasnya. (Redaksi)
- Penulis: arif



