Dari Cirebon untuk Indonesia, IDE.IND Dorong Talenta Digital dan Ekonomi Kreatif Naik Kelas
- account_circle Redaksi
- calendar_month 7 menit yang lalu
- print Cetak

KOTA CIREBON, INC MEDIA – Kota Cirebon didorong menjadi salah satu pusat pertumbuhan talenta digital dan inovasi ekonomi kreatif di Indonesia. Melalui kegiatan IDE.IND, Pemerintah Kota Cirebon mempertemukan pemerintah, pelaku industri, komunitas, inovator, hingga generasi muda untuk membangun ekosistem kreatif yang mampu menghasilkan karya bernilai ekonomi.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung Wali Kota Cirebon Effendi Edo bersama Menteri Ekonomi Kreatif RI Teuku Riefky Harsya di Kota Cirebon, Kamis (5/11/2026).
Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Anggota DPR RI Herman Khaeron, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif Muhamad Neil El Himam, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, serta Plt. Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian Kota Cirebon.
IDE.IND menjadi ruang pertemuan bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk memperluas jejaring, bertukar gagasan, dan membuka peluang kolaborasi. Kegiatan ini tidak sekadar membahas perkembangan teknologi, tetapi juga mendorong kreativitas masyarakat agar berkembang menjadi produk, layanan, dan peluang usaha yang memiliki nilai tambah.
Menteri Ekonomi Kreatif Soroti Potensi Digital Cirebon
Menteri Ekonomi Kreatif RI Teuku Riefky Harsya mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Cirebon dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif. Menurutnya, Cirebon memiliki modal besar berupa kekayaan budaya, tradisi, serta komunitas kreatif yang terus berkembang.
Ia menegaskan bahwa ekonomi kreatif kini menempati posisi strategis dalam pembangunan nasional. Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, sektor ini diharapkan menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Pertama, kami ingin mengapresiasi apa yang telah dilakukan Kota Cirebon dalam mendukung ekonomi kreatif. Kami melihat potensi dan perkembangan komunitas kreatif di Cirebon cukup pesat. Ini menjadi modal penting untuk mendorong ekonomi kreatif agar semakin berkembang dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah,” ujar Teuku Riefky.
Menurutnya, potensi ekonomi kreatif Cirebon tidak hanya bertumpu pada subsektor yang selama ini dikenal, seperti fesyen, kuliner, kriya, dan kerajinan. Peluang baru juga tumbuh pada sektor digital, mulai dari pengembangan aplikasi, teknologi untuk mendukung UMKM, hingga industri gim.
Salah satu perhatian dalam kegiatan IDE.IND adalah membuka ruang pertemuan antara talenta pengembang gim lokal dengan pelaku industri dari daerah lain, termasuk pengembang gim asal Bandung.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan talenta lokal sekaligus membuka jalan bagi lahirnya produk gim asli Cirebon yang mampu menembus pasar nasional maupun internasional.
“Kami mendengar bahwa talenta-talenta pembuat gim di Kota Cirebon cukup banyak, tetapi masih membutuhkan wadah. Karena itu, kami menghadirkan pengembang gim dari Bandung agar bisa bertemu dan berkolaborasi dengan talenta lokal. Harapannya, suatu saat Cirebon dapat menghasilkan produk gim asli daerah yang bisa dikenal di Indonesia,” jelasnya.
Kekayaan Budaya Harus Menghasilkan Nilai Ekonomi
Teuku Riefky juga menyoroti pentingnya menjadikan kekayaan budaya sebagai sumber inspirasi industri kreatif. Menurutnya, daerah dengan identitas budaya yang kuat memiliki peluang untuk menghasilkan produk inovatif yang mempunyai karakter dan daya pembeda.
Namun, kreativitas perlu diikuti kemampuan mengelola serta mengomersialkan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP).
Ia menjelaskan, pengembangan UMKM tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah produksi. Pelaku usaha juga perlu memahami perlindungan kekayaan intelektual, penguatan merek, akses pendanaan, perluasan pasar, promosi, dan peningkatan kualitas produk.
“Bagaimana sebuah ide bisa menghasilkan kreativitas, kemudian didaftarkan kekayaan intelektualnya, lalu dikomersialisasikan secara berkelanjutan. Di situlah nilai tambah ekonomi kreatif terbentuk. Kami juga melakukan pendampingan, mulai dari peningkatan kapasitas, akses pendanaan, akses pasar, promosi, hingga peningkatan kualitas produk,” paparnya.
Dengan pendekatan tersebut, karya kreatif diharapkan tidak berhenti sebagai gagasan atau produk lokal, tetapi dapat berkembang menjadi aset ekonomi yang memberikan manfaat jangka panjang.
Herman Khaeron: Cirebon Gudangnya Kreativitas
Dukungan terhadap pengembangan ekonomi kreatif juga disampaikan Anggota DPR RI Herman Khaeron. Ia menyambut pelaksanaan IDE.IND di Kota Cirebon sebagai salah satu upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di daerah.
Menurut Herman, Cirebon memiliki sejarah panjang dalam industri berbasis keterampilan masyarakat. Potensi tersebut terlihat dari industri rotan, batik, kuliner, hingga industri alas kaki.
Ia menilai sektor-sektor tersebut perlu terus dikembangkan melalui inovasi, pembaruan desain, serta penyesuaian terhadap kebutuhan pasar.
Industri rotan, misalnya, memiliki sejarah sebagai salah satu identitas industri unggulan Cirebon. Sementara batik Cirebon mempunyai kekuatan pada keunikan motif dan karakter budaya yang dapat terus dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
“Cirebon ini gudangnya kreativitas. Banyak sekali potensi yang kita miliki, mulai dari rotan, batik, kuliner, hingga berbagai industri lainnya. Tantangannya adalah bagaimana potensi yang sudah ada ini terus dikembangkan melalui inovasi, sehingga mampu memberikan nilai tambah dan memiliki daya saing di tengah perubahan pasar,” kata Herman.
Ia juga menekankan pentingnya menghubungkan kreativitas dengan peluang ekonomi. Perpaduan ide, seni, budaya, teknologi, dan perlindungan kekayaan intelektual dinilai dapat memperkuat posisi produk lokal di tengah persaingan pasar.
Herman berharap kegiatan seperti IDE.IND dapat terus membuka ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan hasil inovasi, membangun jejaring, dan menjalin kerja sama dengan pelaku industri.
Wali Kota Dorong Anak Muda Jadi Produsen Teknologi
Wali Kota Cirebon Effendi Edo menegaskan bahwa pengembangan teknologi dan ekonomi kreatif harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, ekosistem kreatif tidak boleh tumbuh secara eksklusif, tetapi harus terbuka dan mampu menjawab kebutuhan warga.
“Atas nama Pemerintah Kota Cirebon, kami memandang bahwa pengembangan inovasi teknologi dan ekosistem kreatif tidak boleh berjarak dari masyarakat. Kegiatan seperti ini harus membaur, menjadi bagian dari denyut nadi ekonomi warga, dan pada akhirnya mampu memberikan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Effendi menyebut Kota Cirebon memiliki potensi sumber daya manusia yang besar. Ia menyampaikan bahwa lebih dari 68 persen penduduk Kota Cirebon berada dalam kelompok usia produktif, yang didominasi generasi milenial dan Gen Z. Sementara penetrasi internet di kota tersebut telah melampaui 80 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang untuk mendorong generasi muda tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan produk dan solusi digital.
“Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen digital, yang setiap hari menggunakan aplikasi, gim, dan berbagai platform buatan pihak lain. Kita juga harus mulai mendorong anak-anak muda Cirebon menjadi produsen, menjadi kreator, bahkan menjadi pencipta solusi teknologi yang lahir dari kebutuhan masyarakat kita sendiri,” tutur Wali Kota.
Ia juga menyoroti keberadaan belasan ribu UMKM dan pelaku industri kreatif di Kota Cirebon. Kelompok usaha tersebut dinilai membutuhkan dukungan teknologi agar mampu meningkatkan produktivitas, memperluas jangkauan pemasaran, dan memperkuat daya saing.
Kolaborasi antara pelaku usaha dan talenta digital lokal diharapkan dapat melahirkan aplikasi, layanan, serta inovasi yang menjawab kebutuhan nyata dunia usaha.
IDE.IND Diharapkan Melahirkan Kolaborasi Nyata
Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Pemerintah Kota Cirebon berkomitmen mendorong kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan pelaku industri.
Pemerintah daerah ingin memastikan talenta lokal memiliki ruang untuk mengembangkan gagasan, memperoleh pendampingan, serta menghubungkan hasil inovasi dengan kebutuhan pasar.
“Kami di Pemerintah Kota Cirebon tentu berkomitmen menjaga ekosistem ini. Kami ingin memfasilitasi agar talenta digital, pelaku usaha, akademisi, industri, dan komunitas bisa saling bertemu serta berkolaborasi. Harapannya, dari ruang kolaborasi ini lahir startup dan karya inovatif yang berdaya saing, mandiri, serta mampu memberikan kontribusi bagi perekonomian daerah,” katanya.
Effendi juga mengajak seluruh peserta IDE.IND memanfaatkan kegiatan tersebut untuk memperluas wawasan, membangun jejaring, dan membuka peluang kerja sama. Ia berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, melainkan berlanjut menjadi karya dan kolaborasi yang berkelanjutan.
“Cirebon bukan hanya kota pelabuhan yang memiliki sejarah panjang, tetapi juga harus menjadi kota masa depan yang mampu melahirkan inovator-inovator digital kebanggaan Indonesia. Kami ingin potensi anak-anak muda Cirebon mendapatkan ruang, dukungan, dan kesempatan untuk berkembang,” ungkapnya.
Melalui IDE.IND, Pemerintah Kota Cirebon berharap kekuatan budaya, potensi sumber daya manusia, dan perkembangan teknologi dapat terhubung dalam satu ekosistem ekonomi kreatif yang produktif.
Target akhirnya bukan hanya melahirkan kreator digital dan pengembang teknologi, tetapi juga membuka peluang kerja, memperkuat UMKM, meningkatkan nilai ekonomi produk lokal, serta memperluas kontribusi Cirebon terhadap industri kreatif nasional.
Pewarta: Wahidin
Narasumber: Admin Prokompim
Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan, Setda Kota Cirebon
- Penulis: Redaksi



