Mualem-Dek Fadh Berduka, Insiden Pengibaran Bendera di Pidie Renggut Nyawa Warga
- account_circle Redaksi
- calendar_month 10 menit yang lalu
- print Cetak

BANDA ACEH, INC MEDIA – Insiden berdarah yang terjadi saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, menyisakan duka mendalam. Seorang warga dilaporkan meninggal dunia setelah terkena tembakan dalam ketegangan yang dipicu persoalan pengibaran Bendera Bintang Bulan, Rabu (4/11/2026) sore.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) bersama Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fadh) menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Pemerintah Aceh meminta agar insiden yang menelan korban dari masyarakat sipil itu ditangani secara serius melalui proses hukum yang adil, transparan, dan tidak mengabaikan prinsip-prinsip perdamaian di Aceh.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengatakan Gubernur Mualem dan Wakil Gubernur Dek Fadh menginginkan persoalan tersebut diselesaikan melalui mekanisme hukum. Terlebih, peristiwa itu mengakibatkan seorang warga meninggal dunia dan sejumlah warga lainnya dilaporkan terluka.
“Tentu penanganan secara hukum. Ada korban jiwa dari masyarakat sipil, ada korban yang terluka juga dari masyarakat sipil,” kata Nurlis di Banda Aceh, Kamis (5/11/2026).
“Prinsip utamanya adalah tetap dalam koridor perdamaian, dan penegakan hukum yang seadil-adilnya. Jangan sampai melukai hati rakyat.”
Mualem Sampaikan Duka Mendalam
Nurlis menjelaskan, Gubernur Mualem telah menerima informasi mengenai insiden tersebut dan menyampaikan keprihatinan serta duka mendalam atas meninggalnya warga.
Wakil Gubernur Fadhlullah juga menyampaikan sikap serupa. Ia mengaku sangat sedih ketika mendengar kabar jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa yang terjadi di tengah kegiatan keagamaan tersebut.
Dek Fadh menerima informasi itu saat mendampingi Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, di Banda Aceh.
“Saya sangat sedih dan prihatin saat mendengar kejadian ini. Atas nama keluarga dan Pemerintah Aceh, saya menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban yang meninggal dunia dalam peristiwa di Pidie,” kata Dek Fadh dalam keterangannya di Banda Aceh, Kamis (5/11/2026).
“Kita tentu sangat berduka. Tidak ada keluarga yang ingin kehilangan orang yang dicintainya, terlebih dalam suasana yang seharusnya dipenuhi kebersamaan dan nilai-nilai keagamaan,” lanjut Dek Fadh.
Keselamatan Warga Sipil Harus Diutamakan
Di tengah situasi tersebut, Dek Fadh mengimbau seluruh pihak agar menahan diri dan tidak menggunakan kekerasan dalam menghadapi persoalan di tengah masyarakat.
Menurutnya, keselamatan warga harus menjadi prioritas. Pemerintah dan seluruh pihak terkait perlu memastikan ketegangan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
“Yang paling utama adalah keselamatan rakyat. Kita tidak ingin ada lagi masyarakat yang terluka, apalagi kehilangan nyawa. Saya berharap seluruh pihak dapat menahan diri, mengedepankan dialog, dan tidak membiarkan persoalan ini berkembang menjadi konflik yang lebih besar,” ucap dia.
Ia juga menegaskan bahwa polemik terkait bendera harus diselesaikan secara bermartabat melalui komunikasi dan pendekatan yang mengedepankan hukum. Perbedaan pandangan tidak seharusnya berujung pada kekerasan, apalagi sampai merenggut nyawa masyarakat sipil.
“Persoalan apa pun hendaknya diselesaikan dengan kepala dingin. Kita harus menjaga Aceh agar tetap damai. Jangan sampai perbedaan pandangan justru mengorbankan nyawa dan merusak persaudaraan di antara sesama masyarakat Aceh,” kata Dek Fadh.
Penegakan Hukum dan Transparansi Menjadi Sorotan
Jatuhnya korban jiwa dalam insiden tersebut menjadi perhatian serius karena terjadi di tengah kegiatan keagamaan dan melibatkan masyarakat sipil.
Penyelesaian peristiwa ini tidak cukup hanya dengan imbauan agar semua pihak menahan diri. Penanganan hukum yang profesional, transparan, dan objektif juga diperlukan untuk mengungkap secara utuh rangkaian kejadian, termasuk penyebab ketegangan, kronologi penggunaan senjata api, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Pemeriksaan yang menyeluruh penting untuk memastikan fakta peristiwa terungkap dan hak-hak korban maupun keluarganya mendapatkan perhatian.
Pemerintah Aceh menegaskan pentingnya menjaga perdamaian. Namun, perdamaian juga harus berjalan seiring dengan kepastian hukum dan perlindungan terhadap masyarakat.
Bagi keluarga korban, kehilangan nyawa dalam peristiwa tersebut merupakan duka yang tidak dapat dipulihkan. Karena itu, pengungkapan fakta dan penegakan hukum yang adil menjadi bagian penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Pewarta: Helmy
- Penulis: Redaksi



