Video Gunung Anak Krakatau Hoaks, Bakamla Tegaskan Rekaman Viral Dibuat AI
- account_circle Redaksi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Video Gunung Anak Krakatau Hoaks, Bakamla Tegaskan Rekaman Viral Dibuat AI
Lampung Selatan, INC MEDIA — Beredarnya video Gunung Anak Krakatau hoaks yang memperlihatkan seolah-olah terjadi aktivitas vulkanik besar kembali memicu keresahan masyarakat. Menanggapi viralnya rekaman tersebut, Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI memastikan video yang beredar di media sosial bukan merupakan dokumentasi kejadian nyata, melainkan hasil rekayasa menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Klarifikasi itu disampaikan setelah video tersebut menyebar luas di berbagai platform digital dan memunculkan beragam spekulasi terkait kondisi terkini Gunung Anak Krakatau. Bakamla mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi visual yang belum terverifikasi serta selalu mengacu pada sumber resmi pemerintah.
Video Gunung Anak Krakatau Hoaks Dibuat Menggunakan AI
Bakamla menjelaskan bahwa hasil penelusuran menunjukkan video viral tersebut tidak berasal dari dokumentasi resmi maupun rekaman lapangan. Sejumlah elemen visual dalam video memperlihatkan karakteristik yang identik dengan hasil generasi AI, sehingga tidak dapat dijadikan rujukan mengenai kondisi sebenarnya di kawasan Gunung Anak Krakatau.
Kemajuan teknologi AI memang memungkinkan siapa pun membuat video yang tampak realistis. Namun, kemampuan tersebut juga meningkatkan risiko penyebaran informasi palsu atau hoaks yang berpotensi menimbulkan kepanikan publik.
Karena itu, masyarakat diminta lebih kritis sebelum membagikan konten yang belum dipastikan kebenarannya. Verifikasi informasi menjadi langkah penting agar tidak ikut memperluas penyebaran hoaks.
Masyarakat Diminta Mengutamakan Informasi Resmi
Bakamla menegaskan bahwa setiap informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau sebaiknya hanya mengacu pada lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan melakukan pemantauan dan penyampaian informasi kepada publik.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak terpancing oleh konten sensasional yang beredar di media sosial tanpa disertai sumber yang jelas. Di era digital, penyebaran informasi berlangsung sangat cepat sehingga literasi digital menjadi kunci untuk membedakan informasi valid dan manipulatif.
Hoaks yang memanfaatkan teknologi AI tidak hanya berpotensi menyesatkan masyarakat, tetapi juga dapat mengganggu stabilitas informasi saat terjadi situasi yang membutuhkan kepastian data.
Waspadai Hoaks Berbasis AI
Fenomena penyebaran video hasil AI menjadi tantangan baru dalam ruang digital Indonesia. Visual yang tampak meyakinkan sering kali sulit dibedakan dari rekaman asli oleh masyarakat awam. Oleh sebab itu, setiap informasi yang berkaitan dengan bencana alam, aktivitas gunung api, maupun isu keselamatan publik harus dikonfirmasi melalui kanal resmi pemerintah sebelum dipercaya ataupun disebarluaskan.
Dengan meningkatnya kemampuan teknologi AI, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya verifikasi informasi menjadi semakin krusial. Langkah sederhana seperti memeriksa sumber berita, mencocokkan informasi dengan instansi berwenang, dan tidak terburu-buru membagikan konten dapat membantu menekan penyebaran hoaks di ruang digital.| Red
- Penulis: Redaksi



