DPW CISEBA Lampung Kawal Padepokan Gajah Meta, Perguruan Silat Historis yang Berakar dari Jawa Barat
- account_circle Euis Novana, SH
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

BANDAR LAMPUNG, INC MEDIA — Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) CISEBA Media Provinsi Lampung terus memperkuat jaringan silaturahmi, kebudayaan, dan persaudaraan masyarakat Banten–Lampung. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Padepokan Gajah Meta CISEBA Bandar Lampung, sebuah perguruan pencak silat yang memiliki nilai historis dan akar tradisi dari Jawa Barat.
Padepokan Gajah Meta CISEBA saat ini berpusat di Kampung Keramat, Kecamatan Teluk Betung Timur, Kota Bandar Lampung. Keberadaannya menjadi bagian dari ruang pelestarian seni bela diri tradisional sekaligus wadah untuk membangun persaudaraan dan kegiatan kebudayaan.
Nama Gajah Meta sendiri memiliki karakter simbolik yang kuat dalam tradisi pencak silat Nusantara. Gajah kerap diasosiasikan dengan kekuatan, keteguhan, kewibawaan, serta dalam sejumlah tradisi pencak silat dapat menjadi salah satu kiasan yang berkaitan dengan jurus atau tingkatan tenaga dalam.

Padepokan Gajah Meta CISEBA Bandar Lampung saat menggelar pentas seni dan budaya dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan seni budaya dan mempererat tali persaudaraan melalui kegiatan positif masyarakat. (Foto. Dok: Padepokan Gajah Meta CISEBA/INC MEDIA)
Namun, nilai utama Padepokan Gajah Meta bukan semata-mata terletak pada seni bela diri. Padepokan ini juga menjadi ruang berkumpul dan bersilaturahmi bagi masyarakat yang memiliki perhatian terhadap budaya, persaudaraan dan pelestarian tradisi.
Padepokan Gajah Meta CISEBA Bandar Lampung dipimpin oleh Marlan, yang lebih akrab disapa Kang Marlan, bersama jajaran pengurus dan anggotanya.
Terhubung dengan Jaringan CISEBA
Secara kelembagaan dan jaringan silaturahmi, Padepokan Gajah Meta CISEBA berkaitan dengan Pesanggrahan CISEBA Cabang Bandar Lampung dan jaringan kekeluargaan Banten–Lampung.
CISEBA sendiri dikenal sebagai bagian dari jaringan silaturahmi yang memiliki keterkaitan dengan Ciomas, Serang, Banten, sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat dengan latar belakang budaya Banten dan Lampung.
Semangat tersebut salah satunya tercermin melalui ungkapan dalam bahasa Sunda Banten:
“Batur jadi dulur, dulur tambah akur.”
Ungkapan itu menggambarkan semangat menjadikan orang lain sebagai saudara dan menjaga persaudaraan agar semakin rukun.
Bagus Supendi: CISEBA Akan Terus Mengawal
Ketua DPW CISEBA Media Provinsi Lampung, Bagus Supendi, mengatakan pihaknya menyambut baik keberadaan Padepokan Gajah Meta CISEBA sebagai bagian dari penguatan silaturahmi budaya dan persaudaraan.
Menurut Bagus, seni pencak silat merupakan salah satu kekayaan budaya yang perlu dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“CISEBA bukan hanya soal organisasi, tetapi bagaimana kita membangun silaturahmi, menjaga persaudaraan dan ikut merawat budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat. Padepokan Gajah Meta CISEBA kami dorong menjadi wadah kegiatan yang positif, khususnya dalam seni pencak silat, kebudayaan dan pembinaan generasi muda.”
Bagus menegaskan, DPW CISEBA Media Lampung siap memberikan pendampingan terhadap proses penguatan kelembagaan Padepokan Gajah Meta CISEBA.
“Kami akan terus mengawal dan mendampingi Padepokan Gajah Meta CISEBA Lampung dalam proses penguatan kelembagaan. Jika nantinya ada proses administrasi atau penyampaian kepada Kesbangpol Kota Bandar Lampung maupun pemerintah daerah, tentu akan kami dukung sesuai aturan dan prosedur yang berlaku.”
Ia menilai keberadaan padepokan di Kampung Keramat, Teluk Betung Timur, memiliki posisi penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi pencak silat di tengah perkembangan zaman.
“Yang paling penting adalah persaudaraan. Batur jadi dulur, dulur tambah akur. Kita boleh berbeda latar belakang, tetapi ketika sudah berada dalam satu wadah silaturahmi, kita harus saling menghargai, saling mendukung dan menjaga nama baik organisasi serta daerah.”
Kang Marlan: Kami Ingin Tradisi Tetap Hidup
Ketua Padepokan Gajah Meta CISEBA Bandar Lampung, Kang Marlan, mengatakan pihaknya ingin mempertahankan pencak silat sebagai warisan budaya yang tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Segenap jajaran Padepokan Gajah Meta CISEBA Bandar Lampung berfoto bersama usai mengikuti gelaran pentas seni dan budaya dalam rangka perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi momentum mempererat silaturahmi, kekeluargaan, serta menjaga eksistensi seni dan budaya pencak silat di Kota Bandar Lampung. (Foto. Dok: Padepokan Gajah Meta CISEBA/INC MEDIA)
Menurutnya, padepokan bukan hanya tempat untuk berlatih kemampuan bela diri, tetapi juga tempat membentuk karakter dan memperkuat hubungan antarsesama.
“Padepokan ini bukan hanya tempat untuk belajar pencak silat. Kita ingin menjadikannya sebagai tempat berkumpul, bersilaturahmi dan mempererat persaudaraan. Yang kita bangun bukan hanya kemampuan bela diri, tetapi juga akhlak, kedisiplinan dan rasa kekeluargaan.”
Kang Marlan menyebut Gajah Meta memiliki perjalanan dan akar tradisi yang menjadi bagian penting dalam keberadaan perguruan tersebut.
“Gajah Meta ini punya sejarah dan akar tradisi yang harus kita jaga. Karena itu, kami ingin generasi muda tidak hanya mengenal pencak silat sebagai bela diri, tetapi juga memahami nilai budaya, disiplin dan persaudaraan yang ada di dalamnya.”
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada DPW CISEBA Media Lampung yang terus memberikan dukungan terhadap pengembangan Padepokan Gajah Meta CISEBA.
“Kami berterima kasih kepada DPW CISEBA yang selama ini memberikan dukungan. Kami ingin Gajah Meta CISEBA bisa berjalan dengan baik, tertib dan sesuai aturan. Kalau ada proses administrasi maupun koordinasi dengan pemerintah, tentu kami siap mengikuti prosedur yang ada.”
Saat ini, jajaran Padepokan Gajah Meta CISEBA tengah melakukan penataan organisasi, termasuk mempersiapkan KSB (Ketua, Sekretaris dan Bendahara) serta kelengkapan administrasi kelembagaan.
Rencana tersebut selanjutnya akan dikoordinasikan dengan pihak terkait, termasuk Kesbangpol Kota Bandar Lampung, sesuai ketentuan dan mekanisme yang berlaku.
“Kami masih menata KSB dan administrasi organisasi. Setelah semuanya siap, kami akan berkoordinasi dengan Kesbangpol Kota Bandar Lampung. Intinya kami ingin semuanya tertib, jelas dan tidak berjalan di luar aturan.”
Dari Kampung Keramat untuk Pelestarian Budaya
Dengan bermarkas di Kampung Keramat, Teluk Betung Timur, Padepokan Gajah Meta CISEBA diharapkan mampu menjadi salah satu ruang pelestarian pencak silat sekaligus pusat kegiatan positif masyarakat.
Keberadaan padepokan juga diarahkan untuk memperkuat hubungan antara seni bela diri, kebudayaan dan persaudaraan.
Dalam penguatan jaringan tersebut, terdapat tiga unsur yang didorong untuk terus membangun sinergi di Bandar Lampung, yakni:
- DPW CISEBA Media Provinsi Lampung
- Gajah Meta CISEBA Bandar Lampung
- Jiwa Sejati Bandar Lampung
Ketiga unsur tersebut diharapkan dapat berkontribusi dalam kegiatan kebudayaan, pencak silat, sosial, kepemudaan dan penguatan silaturahmi masyarakat.
DPW CISEBA Media Lampung memastikan akan terus melakukan koordinasi dan pendampingan terhadap Padepokan Gajah Meta CISEBA, termasuk dalam proses komunikasi kelembagaan dengan pemerintah daerah sesuai aturan yang berlaku.
Bagi Gajah Meta CISEBA, pencak silat bukan sekadar soal jurus dan kemampuan bela diri. Di dalamnya terdapat sejarah, disiplin, budaya dan persaudaraan yang perlu diwariskan.
Dari Kampung Keramat, Teluk Betung Timur, semangat itu terus dijaga.
Batur jadi dulur, dulur tambah akur.
(Haris)
- Penulis: Euis Novana, SH







