Ngaji Kebangsaan Gus Baha, Kapolda Aceh Tekankan Sinergi Polri dan Ulama
- account_circle Helmy
- calendar_month 55 menit yang lalu
- print Cetak

Banda Aceh, INC MEDIA – Ngaji Kebangsaan Gus Baha menjadi bagian dari pembinaan rohani yang diikuti Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, Sabtu, 26 September 2026.
Kapolda Aceh mengikuti kegiatan tersebut secara hybrid dari Gedung Presisi Polda Aceh. Kegiatan juga diikuti Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo, para pejabat utama, serta personel Polda Aceh.
Tidak hanya di tingkat Polda. Seluruh Kapolres dan Kapolresta jajaran Polda Aceh turut mengikuti Ngaji Kebangsaan Gus Baha secara daring dari wilayah masing-masing.
Ngaji Kebangsaan Gus Baha Jadi Penguatan Rohani
Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara kepolisian, ulama, dan lingkungan pondok pesantren.
Menurut Joko, tugas kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat membutuhkan dukungan dari berbagai elemen. Karena itu, nasihat serta doa para ulama dinilai memiliki arti penting dalam mendukung pelaksanaan tugas Polri.
“Hubungan yang harmonis antara Polri, ulama, dan pondok pesantren memiliki peran strategis dalam merawat nilai-nilai kebangsaan serta mewujudkan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang aman dan kondusif,” kata Joko, yang turut mengikuti pengajian tersebut.
Sinergi tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan. Hubungan Polri dengan ulama juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat nilai moral dan kebangsaan di tengah masyarakat.
Gus Baha Bicara Polisi dan Kesadaran Moral
K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha merupakan ulama yang dikenal sebagai ahli tafsir Al-Qur’an dan pakar fikih. Ulama kelahiran Rembang pada 1970 tersebut dikenal luas melalui penyampaian dakwah yang lugas, mendalam, tetapi tetap mudah dipahami.
Gus Baha juga dikenal menyampaikan materi keagamaan dengan pendekatan keilmuan yang santai dan diselingi humor. Kesederhanaan menjadi salah satu ciri yang melekat dalam penampilannya ketika menyampaikan kajian kepada masyarakat.
Saat ini, Gus Baha mengemban amanah sebagai pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Rembang, meneruskan kepemimpinan sang ayah. Ia juga tercatat menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Ketua Tim Lajnah Mushaf Universitas Islam Indonesia (UII).
Dalam Ngaji Kebangsaan Gus Baha, pembahasan kemudian menyentuh hubungan antara keberadaan polisi, ketertiban masyarakat, serta kesadaran moral setiap individu.
Gus Baha menegaskan bahwa polisi mempunyai peran penting dalam menjaga ketertiban sekaligus mencegah tindak kejahatan. Namun, ia mengingatkan bahwa perilaku baik seharusnya tidak semata-mata muncul karena seseorang takut terhadap hukum atau sanksi sosial.
Menurut Gus Baha, kesadaran berketuhanan menjadi fondasi penting agar seseorang tetap berbuat baik meskipun tidak ada aparat maupun masyarakat yang melihat.
Nilai Ketuhanan dalam Menjaga Kamtibmas
Pandangan tersebut menempatkan keamanan dan ketertiban tidak hanya sebagai persoalan penegakan hukum. Masyarakat juga membutuhkan kesadaran dari dalam diri untuk menjaga perilaku dan menghormati aturan.
Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam konteks yang disampaikan Gus Baha, menjadi landasan moral agar seseorang tetap menjaga dirinya dalam berbagai situasi.
Pesan tersebut juga memiliki relevansi dengan tugas kepolisian. Penegakan hukum diperlukan untuk memberikan kepastian dan perlindungan kepada masyarakat. Namun, pencegahan kejahatan juga membutuhkan kesadaran masyarakat agar tidak melakukan pelanggaran meskipun tidak sedang berada dalam pengawasan aparat.
Gus Baha kemudian menyampaikan penjelasannya mengenai pentingnya kesadaran tersebut.
“Kalau seseorang berbuat baik hanya karena takut ditangkap polisi atau takut mendapat sanksi sosial, lalu bagaimana ketika dia berada di tempat yang tidak ada polisi dan tidak ada orang lain yang melihat? Di situlah pentingnya nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Orang yang berketuhanan akan tetap menjaga dirinya karena menyadari bahwa Allah selalu melihat. Karena itu, tugas kepolisian dalam menjaga keamanan perlu berjalan seiring dengan penguatan nilai agama dan moral, agar kebaikan tidak semata-mata lahir karena takut terhadap hukuman, tetapi tumbuh dari kesadaran dalam diri setiap manusia,” ujar Gus Baha.
Polri, Ulama, dan Masyarakat
Kegiatan Ngaji Kebangsaan Gus Baha memperlihatkan ruang dialog antara tugas kepolisian dengan penguatan nilai keagamaan dan moral.
Bagi Polri, menjaga kamtibmas bukan hanya menyangkut tindakan setelah terjadi pelanggaran. Upaya pencegahan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat, tokoh agama, pondok pesantren, dan berbagai unsur sosial lainnya.
Pesan yang disampaikan Gus Baha menekankan bahwa kesadaran moral menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang aman. Ketika nilai agama dan kepatuhan terhadap hukum berjalan bersama, masyarakat diharapkan memiliki kesadaran untuk menjaga ketertiban bukan hanya karena pengawasan, tetapi juga karena tanggung jawab moral.
Dari Gedung Presisi Polda Aceh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan rohani sekaligus penguatan pesan kebangsaan bagi jajaran kepolisian di Aceh.
By. Helmy
- Penulis: Helmy







