Hoaks AKBP Zainuddin, Polda Aceh Tegaskan Narasi Provokatif Hasil Rekayasa AI
- account_circle Helmy
- calendar_month 7 jam yang lalu
- print Cetak

BANDA ACEH, INC MEDIA — Hoaks AKBP Zainuddin kembali menjadi perhatian setelah narasi provokatif yang mencatut nama salah satu perwira menengah Polda Aceh beredar di sejumlah grup WhatsApp masyarakat. Polda Aceh memastikan narasi tersebut tidak benar dan meminta masyarakat tidak ikut menyebarkannya sebelum melakukan verifikasi.
Narasi yang beredar ditulis menggunakan huruf kapital dan memuat pernyataan provokatif yang menyebut TNI sebagai pihak yang menjadi biang kerok kisruh politik di Aceh. Konten tersebut juga dilengkapi foto serta nomor kontak yang diklaim berkaitan dengan AKBP Zainuddin.
Polda Aceh menegaskan, pencatutan nama pejabat kepolisian dalam konten semacam itu tidak dapat dibenarkan. Masyarakat diminta berhati-hati karena informasi yang tidak terverifikasi dapat memicu kesalahpahaman dan keresahan.
Hoaks AKBP Zainuddin Dipastikan Bukan Pernyataan Resmi
Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto mengatakan, AKBP Zainuddin telah memberikan klarifikasi kepada Paminal terkait beredarnya narasi tersebut.
“AKBP Zainuddin telah memberikan klarifikasi kepada Paminal bahwa narasi maupun foto yang beredar tersebut tidak benar dan bukan dibuat olehnya,” kata Joko Krisdiyanto dalam keterangannya, Minggu, 23 Agustus 2026.
Klarifikasi tersebut sekaligus membantah klaim yang menghubungkan AKBP Zainuddin dengan narasi politik yang beredar. Dengan demikian, masyarakat tidak seharusnya menjadikan konten tersebut sebagai dasar untuk menarik kesimpulan mengenai sikap maupun pernyataan pribadi yang bersangkutan.
Polda Aceh juga menemukan sejumlah kejanggalan pada foto yang digunakan dalam konten tersebut. Polisi menduga foto itu telah direkayasa menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Foto AI Perkuat Indikasi Hoaks AKBP Zainuddin
Joko menjelaskan, dugaan rekayasa dapat dilihat dari ketidaksesuaian sejumlah atribut pada seragam yang dikenakan dalam foto.
“Foto yang digunakan merupakan produk AI. Seragamnya pun tidak sesuai dengan aturan Polri. Pada seragam PDH yang digunakan terdapat ketidaksesuaian penempatan tulisan POLRI, yang seharusnya digunakan pada seragam PDL. Selain itu, tanda pangkat yang digunakan juga tidak sesuai. Jadi, informasi tersebut dipastikan hoaks,” kata Joko.
Temuan tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam membantah keaslian konten. Selain isi narasi yang tidak pernah dibuat oleh AKBP Zainuddin, elemen visual yang digunakan juga menunjukkan ketidaksesuaian dengan ketentuan atribut seragam Polri.
Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi digital dapat digunakan untuk menghasilkan konten yang terlihat meyakinkan. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kemampuan memeriksa informasi, terutama ketika sebuah konten membawa nama pejabat, institusi negara, atau tokoh tertentu.
Polda Aceh Ingatkan Bahaya Narasi Provokatif
Polda Aceh mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai informasi yang beredar melalui media sosial maupun aplikasi percakapan. Setiap informasi yang memuat tuduhan, isu politik, atau pernyataan sensitif perlu diperiksa melalui sumber resmi.
Joko juga meminta masyarakat tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi palsu. Membagikan kembali konten tanpa memastikan kebenarannya berpotensi memperluas dampak informasi yang keliru.
“Mari bersama-sama menjaga situasi keamanan dan ketertiban di Aceh tetap kondusif dengan bijak dalam bermedia sosial. Apabila menemukan informasi yang diduga mengandung hoaks atau pencatutan nama pihak tertentu, masyarakat diharapkan melakukan konfirmasi kepada sumber resmi serta tidak mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.
Pernyataan Polda Aceh tersebut menjadi penegasan bahwa narasi yang mencatut nama AKBP Zainuddin tidak dapat dijadikan rujukan untuk menggambarkan sikap pribadi maupun institusional kepolisian.
Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga ruang digital tetap sehat. Sikap kritis, kebiasaan melakukan verifikasi, serta tidak terburu-buru membagikan informasi merupakan langkah sederhana untuk mencegah hoaks berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
Di tengah derasnya arus informasi, kecepatan bukan satu-satunya ukuran. Kebenaran dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan harus menjadi pertimbangan utama sebelum sebuah informasi dipercaya atau disebarluaskan.
Red.
- Penulis: Helmy







