10 Sekolah Aceh Utara Raih Adiwiyata 2026, Kerja Ikhlas Berbuah Penghargaan
- account_circle Helmy
- calendar_month 2 menit yang lalu
- print Cetak

ACEH UTARA, INC MEDIA — Adiwiyata Aceh Utara kembali mencatatkan prestasi. Sebanyak 10 sekolah dan madrasah di Kabupaten Aceh Utara berhasil meraih Penghargaan Adiwiyata Kabupaten 2026 setelah melewati proses pembinaan, evaluasi, dan seleksi.
Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas konsistensi sekolah dalam membangun budaya peduli lingkungan, sekaligus menciptakan ruang belajar yang bersih, sehat, asri, dan ramah lingkungan.
Adiwiyata Aceh Utara Berangkat dari Kerja Nyata
Penyerahan penghargaan berlangsung pada Rabu, 2 September 2026, dalam rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional. Penghargaan diserahkan oleh Bupati Aceh Utara dengan didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Utara, serta perwakilan perusahaan mitra.
Kepala DLHK Aceh Utara, Saiful Fata, mengatakan antusiasme sekolah dan madrasah mengikuti program Adiwiyata tahun ini cukup tinggi.
Sebanyak 53 sekolah dan madrasah tercatat mendapatkan pembinaan sekaligus mendaftar melalui Sistem Informasi Adiwiyata (SIDIA). Setelah melalui tahapan evaluasi dan seleksi, sebanyak 10 sekolah dan madrasah dinyatakan memenuhi kriteria untuk memperoleh penghargaan Adiwiyata Kabupaten 2026.
Sepuluh penerima penghargaan tersebut terdiri atas MIN 25 Aceh Utara di Simpang Kramat, SDN 1 Tanah Pasir, SDN 5 Banda Baro, SDN 3 Samudera, SDN 7 Dewantara, MIN 26 Aceh Utara di Syamtalira Bayu, MIN 10 Aceh Utara di Baktiya Barat, SMPN 1 Kuta Makmur, SMPN 2 Meurah Mulia, serta SMPN 1 Syamtalira Bayu.
Adiwiyata Aceh Utara Bukan Sekadar Piala
Di balik penghargaan tersebut terdapat kerja bersama yang melibatkan kepala sekolah, guru, siswa, komite sekolah, tim pembina, masyarakat sekolah, hingga mitra dunia usaha.
Kepala DLHK Aceh Utara Saiful Fata menegaskan pendidikan lingkungan tidak boleh berhenti pada teori. Menurutnya, pendidikan lingkungan harus membentuk karakter dan keberanian untuk melakukan tindakan nyata.
“Pendidikan lingkungan hidup dilakukan bukan hanya untuk membentuk pengetahuan, tetapi juga empati, kepedulian, dan keberanian untuk bertindak nyata sejak dini melalui aksi nyata,” ujar Saiful Fata.
Program Adiwiyata juga menuntut sekolah membangun kebiasaan yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Aspek yang dinilai antara lain kebersihan dan fungsi sanitasi, pengelolaan sampah, keanekaragaman hayati, pemeliharaan tanaman, serta penghematan energi dan air.
Dengan demikian, keberhasilan sekolah tidak semata diukur dari seberapa banyak tanaman yang ditanam atau seberapa bersih halaman sekolah. Lebih jauh, Adiwiyata mendorong perubahan perilaku seluruh warga sekolah agar kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari budaya pendidikan.
Adiwiyata Aceh Utara Harus Berkelanjutan
Tim Pembina Adiwiyata sekaligus Pengawas Lingkungan, Syamsul Rizal, mengingatkan bahwa Adiwiyata bukan kompetisi untuk mengejar piala.
“Adiwiyata bukan kegiatan lomba, melainkan penghargaan kepada sekolah yang telah memenuhi kriteria. Tujuannya menciptakan kualitas lingkungan hidup melalui perubahan perilaku warga sekolah,” jelas Syamsul Rizal.
Pesan tersebut menjadi penting karena program lingkungan tidak seharusnya dikerjakan secara instan hanya ketika sekolah menghadapi proses penilaian.
Syamsul juga mengingatkan agar sekolah tidak melakukan program secara “kebut semalam” yang justru berpotensi membebani anggaran. Menurutnya, keikutsertaan sekolah semestinya berangkat dari kesadaran dan keikhlasan untuk membangun budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan.
Penghargaan Harus Menjadi Awal Perubahan
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara, Jamaluddin, turut memberikan apresiasi kepada sekolah yang berhasil memperoleh penghargaan.
Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh warga sekolah. Kepala sekolah, guru, siswa, hingga komite sekolah memiliki peran dalam membangun budaya lingkungan yang sehat.
Penghargaan Adiwiyata diharapkan tidak berhenti sebagai sertifikat atau simbol prestasi. Sebaliknya, penghargaan tersebut harus menjadi pemicu bagi sekolah penerima untuk mempertahankan budaya peduli lingkungan sekaligus menjadi contoh bagi sekolah lainnya.
Jamaluddin berharap sekolah-sekolah lain di Aceh Utara terus berinovasi dalam menjaga kebersihan, keindahan, dan kelestarian lingkungan. Dengan lingkungan sekolah yang sehat dan nyaman, proses pendidikan pun diharapkan berjalan lebih baik.
Pada akhirnya, Adiwiyata Aceh Utara 2026 menunjukkan bahwa penghargaan lahir dari proses panjang. Ada pembinaan, kedisiplinan, kolaborasi, dan perubahan kebiasaan yang harus dijaga setiap hari.
Karena itu, kerja ikhlas tidak berhenti ketika penghargaan diterima. Justru setelah penghargaan diberikan, tantangan sesungguhnya dimulai: memastikan kepedulian lingkungan tetap hidup dan menjadi karakter seluruh warga sekolah.
(Helmy – INC MEDIA)
- Penulis: Helmy







