Difabel Panggung Teater Haru, “Garuda Wisnu Kencana” Sentuh Hati Penonton
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
- print Cetak

Difabel panggung teater haru warnai Hari Pendidikan Nasional
Bandar Lampung, INC MEDIA — Suasana difabel panggung teater haru begitu terasa saat Paguyuban Sahabat Difabel Lampung (Sadila) menggelar pementasan teater kabaret bertajuk “Garuda Wisnu Kencana”. Anak-anak difabel tampil penuh percaya diri, menghadirkan kisah sarat makna yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah emosi penonton hingga larut dalam tepuk tangan panjang.
Agenda Tahunan Sarat Makna Inklusi
Pementasan ini merupakan bagian dari agenda tahunan “Teater Kabaret Sahabat” yang kini memasuki tahun keempat. Tahun ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional—sebuah refleksi penting tentang kesetaraan akses pendidikan bagi seluruh anak bangsa, termasuk difabel.
Kehadiran pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan semata, melainkan juga simbol bahwa ruang inklusi dalam dunia seni terus terbuka dan berkembang.
Kisah Kolosal: Antara Keserakahan dan Keadilan
Selama kurang lebih 90 menit, para difabel membawakan kisah kolosal yang diadaptasi dari legenda Nusantara. Cerita tersebut mengangkat tema keserakahan dan keadilan—dua nilai yang relevan dalam kehidupan sosial.
Dalam alur cerita, sosok permaisuri digambarkan dikuasai ketamakan hingga menghalalkan berbagai cara demi mencapai ambisi. Namun, keadilan tetap menemukan jalannya. Pesan moral inilah yang disampaikan secara kuat dan emosional melalui setiap adegan yang dimainkan.
Difabel Panggung Teater Haru Sampaikan Pesan Moral
Ketua Pelaksana kegiatan, Shiva Ramadhani, menjelaskan bahwa pemilihan tema “Garuda Wisnu Kencana” bertujuan mengangkat kembali cerita-cerita legendaris Indonesia ke panggung seni.
“Sebelumnya kami sudah mementaskan kisah Malin Kundang, Si Pahit Lidah, hingga Suruntul dan Buaya Perompak. Tahun ini kami ingin menghadirkan konsep yang lebih besar, seperti ‘menurunkan kayangan ke bumi’,” ujarnya saat ditemui usai pementasan, Minggu (3/5/2026).
Ia menegaskan, pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana edukasi moral bagi masyarakat.
“Pesan yang ingin kami sampaikan adalah keadilan akan tegak dengan caranya sendiri. Kita tidak boleh serakah, karena orang yang serakah tidak akan pernah merasa cukup,” tambahnya.
Bukti Nyata Kemampuan dan Kreativitas Difabel
Melalui panggung ini, para difabel membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan, kreativitas, dan semangat yang setara dengan anak-anak pada umumnya. Sadila pun berupaya mematahkan stigma negatif yang masih ada di tengah masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak disabilitas itu mampu. Mereka bisa berkarya, mereka bisa tampil, dan mereka berusaha untuk sejajar dengan teman-teman non-disabilitas,” tegas Shiva.
Proses Panjang di Balik Panggung
Kesuksesan pementasan ini tidak diraih secara instan. Selama kurang lebih tiga bulan, para peserta menjalani latihan intensif dengan berbagai tantangan, terutama dalam menjaga fokus dan stamina.
Namun, dedikasi para pendamping serta semangat tinggi dari anak-anak difabel menjadi kunci utama keberhasilan pertunjukan ini.
“Dedikasi para pendamping dan semangat anak-anak menjadi kunci utama. Semua proses akhirnya bisa berjalan dengan baik hingga hari pementasan,” jelasnya.
Apresiasi Penonton dan Harapan Ke Depan
Pementasan ini meninggalkan kesan mendalam. Tepuk tangan meriah dari penonton menjadi bukti bahwa karya para difabel mampu menyentuh hati dan menyampaikan pesan kemanusiaan yang kuat.
Ke depan, Sadila berharap kegiatan ini terus berlanjut sebagai agenda tahunan. Selain itu, panggung teater ini diharapkan menjadi ruang ekspresi yang lebih luas bagi difabel untuk terus berkarya dan menunjukkan potensi terbaik mereka.*
- Penulis: Redaksi



